Pages

Sifat-Sifat Relasi

Monday, May 12, 2014
Sifat-Sifat Relasi
1. Refleksif (Reflexive)
Definisi :
Relasi R pada himpunan A disebut refleksif jika (a,a) Î R untuk setiap a Î A
Definisi di atas menyatakan bahwa di dalam relasi refleksif setiap elemen di dalam A berhubungan dengan dirinya sendiri. Juga menyatakan bahwa relasi R pada himpunan A tidak refleksif jika ada a Î A tetapi tidak terdapat (a,a).
Contoh 1:
Misalkan A = {1, 2, 3, 4} dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A, maka :
a.    Relasi R = { (1,1), (1,3), (2,1), (2,2), (3,3), (4,2), (4,3), (4,4) } bersifat refleksif karena terdapat elemen relasi yang berbentuk (a,a) yaitu (1,1), (2,2), (3,3), dan (4,4)
b.    Relasi R = {(1,1), (2,2), (2,3), (4,2), (4,3), (4,4)} tidak bersifat refleksif karena tidak terdapat (3,3).
Contoh 2:
Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat refleksif karena setiap bilangan bulat posifit selalu habis membagi dirinya sendiri, sehingga (a,a) Î R untuk setiap a Î A.
Contoh 3:
Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif
R : x lebih besar dari y
S : x + y = 5
T : 3x + y = 10
Mana diantara ketiga relasi tersebut yang bersifat refleksif ?

2. Setangkup (Symmetric) dan Tolak-Setangkup (Antisymmetric)
Definisi Setangkup (Symmetric) :
Relasi R pada himpunan A disebut setangkup jika (a,b) Î R, maka (b,a) Î R , untuk a,b Î A
Definisi di atas menyatakan bahwa relasi R pada himpunan A tidak setangkup jika (a,b) Î R sedemikian sehingga (b,a) Ï R.
Contoh:
Misalkan A adalah himpunan mahasiswa Teknik Informatika STIKOM Poltek Cirebon dan R adalah relasi pada A sedemikian sehingga (a,b) Î R jika dan hanya jika a satu jurusan dengan b.
Maka jika dibalik, b pun se-jurusan dengan a. Jadi bisa dikatakan bahwa R setangkup.
Contoh lain:
Misalkan T adalah relasi pada himpunan bilangan bulat positif  sedemikian sehingga (a,b) Î T jika dan hanya jika a ³ b.
Jelas dong...T tidak setangkup, karena misalnya (6,5) Î T tetapi (5,6) Ï T.
Definisi Tolak-Setangkup (antisymmetric) :
Relasi R pada himpunan A disebut tolak-setangkup jika (a,b) Î R dan (b,a) Î R maka a = b, untuk semua a,b Î A.
Definisi di atas menyatakan bahwa jika (a,b) Î R, maka (b,a) Ï R kecuali a = b. Juga menyatakan bahwa relasi R pada himpunan A tidak tolak-setangkup jika ada elemen berbeda a dan b  sedemikian  sehingga (a,b) Î R dan (b,a) Î R.
Contoh:
Misalkan A adalah himpunan tes seleksi yang diadakan untuk masuk bekerja ke sebuah perusahaan (misalnya tes membaca cepat, tes menulis cepat, tes berjalan cepat, dsb).
Terus.....misalkan R adalah relasi pada A sedemikian sehingga (a,b) Î R jika tes a dilakukan sebelum tes b.
Jadi jelas dong....jika tes a dilakukan sebelum tes b, tes b tidak mungkin dilakukan sebelum tes a untuk dua tes a dan b yang berbeda.
Dengan kata lain, (b,a) Ï R kecuali a = b. Jadi R adalah relasi tolak-setangkup.
Contoh lagi :
Misalkan A = {1,2,3,4} dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A, maka :
-       Relasi R = {(1,1), (1,2), (2,1), (2,2), (2,4), (4,2), (4,4)} bersifat setangkup karena jika (a,b) Î R maka (b,a) juga Î R.
Disini  (1,2) dan (2,1) Î R,  begitu  juga  (2,4)  dan  (4,2) Î R.
-       Relasi R = {(1,1), (2,3), (2,4), (4,2)} tidak setangkup karena (2,3) Î R tetapi (3,2) Ï R
-       Relasi R = {(1,1), (2,2), (3,3)} tolak-setangkup karena (1,1) Î R dan 1 = 1, (2,2) Î R dan 2 = 2, (3,3) Î R dan 3 = 3.
Betul ngga yach....bahwa R juga setangkup ??
-       Relasi R = {(1,1), (1,2), (2,2), (2,3)} tolak-setangkup karena (1,1) Î R dan 1 = 1, serta (2,2) Î R dan 2 = 2.
Betul ngga yach....bahwa R tidak setangkup ??
-       Relasi R = {(1,1), (2,4), (3,3), (4,2)} tidak tolak-setangkup karena 2 ≠ 4 tetapi (2,4) dan (4,2) anggota R.
-        Relasi R = {(1,2), (2,3), (1,3)} tidak setangkup tetapi tolak-setangkup.
 
Contoh berikutnya :
1. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif dikatakan tidak setangkup karena jika a habis membagi b, b tidak habis membagi a, kecuali jika a = b.
Misalnya, 2 habis membagi 4, tetapi 4 tidak habis membagi 2. Karena itu (2,4) Î R tetapi (4,2) Ï R.
2. Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif dikatakan tolak-setangkup karena jika a habis membagi b dan b habis membagi a maka a = b.
Misalnya, 4 habis membagi 4 maka oleh karena itu (4,4) Î R dan 4 = 4.
Contoh lagi ??
Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilanga bulat positif.
        R : x lebih besar dari y
        S : x + y = 6
        T : 3x + y = 10
R bukan relasi setangkup karena, misalnya 5 lebih besar dari 3, tetapi 3 tidak lebih besar dari 5.
S relasi setangkup karena, misalnya (4,2) dan (2,4) adalah anggota S.
T tidak setangkup karena, misalnya (3,1) adalah anggota T tetapi (1,3) bukan anggota T.
S bukan relasi tolak-setangkup karena, misalnya (4,2) dan (4,2) Î S tetapi 4 ≠ 2.
R dan T keduanya tolak-setangkup.....sok buktikan !!!
3. Menghantar (transitive)
Definisi:
Relasi  R  pada  himpunan  A disebut menghantar jika (a,b) Î R  dan (b,c) Î R, maka (a,c) Î R untuk semua a,b,c Î A
Ilustrasinya:
Misalkan A adalah himpunan orang, dan R adalah relasi pada A sedemikian sehingga (a,b) Î R jika dan hanya jika b adalah keturunan a.
Jika b adalah keturunan a, yaitu (a,b) Î R,  dan c adalah keturunan  b,  yaitu  (b,c) Î R  maka c juga keturunan a, yaitu (a,c) Î R.
Jadi, R adalah relasi menghantar. Tetapi, jika T adalah relasi pada A sedemikian sehingga (a,b) Î T jika a adalah ibu dari b, maka T tidak menghantar.
Contoh 1:
Misalkan A = {1,2,3,4}, dan relasi R di bawah ini didefinisikan pada himpunan A, maka :
(a) R = {(2,1), (3,1), (3,2), (4,1), (4,2), (4,3)} bersifat menghantar. Perhatikan tabel berikut :
Pasangan berbentuk
(a,b)
(b,c)
(a,c)
(3,2)
(2,1)
(3,1)
(4,2)
(2,1)
(4,1)
(4,3)
(3,1)
(4,1)
(4,3)
(3,2)
(4,2)
(b) R = {(1,1), (2,3), (2,4), (4,2)} tidak menghantar karena (2,4) dan (4,2) Î R, tetapi (2,2) Ï R, begitu juga (4,2) dan (2,3) Î R, tetapi (4,3) Ï R.
(c)    R = {(1,1), (2,2), (3,3), (4,4)} jelas menghantar.....mangga buktikan !!!
Contoh 2:
Relasi “habis membagi” pada himpunan bilangan bulat positif bersifat menghantar. Misalkan bahwa a habis membagi b dan b habis membagi c. Maka terdapat bilangan positif m dan n sedemikian sehingga b = ma dan c = nb.
Disini c = nma, sehingga a habis membagi c. Jadi, relasi “habis membagi” bersifat menghantar.
Contoh 3:
Tiga buah relasi di bawah ini menyatakan relasi pada himpunan bilangan bulat positif
        R : x lebih besar dari y
        S : x + y = 6
        T : 3x + y = 10
R adalah relasi menghantar karena jika x > y dan y > z maka x > z.
S tidak menghantar karena, misalkan (4,2) dan (2,4) adalah anggota S tetapi (4,4) Ï S.
T tidak menghantar karena, misalkan T = {(1,7), (2,4), (3,1)}
Read more ...

Ekuivalensi Logika

Saturday, May 10, 2014
Read more ...

Implikasi Logika

Saturday, May 10, 2014

Implikasi Logik


A. Implikasi (proposisi bersyarat)
Implikasi adalah Misalkan ada 2 pernyataan p dan q, untuk menunjukkan atau membuktikan bahwa jika p bernilai benar akan menjadikan q bernilai benar juga, diletakkan kata “JIKA” sebelum pernyataan pertama lalu diletakkan kata “MAKA” sebelum pernyataan kedua sehingga didapatkan suatu pernyataan majemuk yang disebut dengan “IMPLIKASI/PERNYATAAN BERSYARAT/KONDISIONAL/ HYPOTHETICAL
dengan notasi “”.
Notasi p  q dapat dibaca :
1. Jika p maka q
2. q jika p
3. p adalah syarat cukup untuk q
4. q adalah syarat perlu untuk p
Tabel kebenaran implikasi

p q p  q
T T T
T F F
F T T
F F T

B. Contoh Implikasi
• Contoh ke-1
p : Pak Ali adalah seorang haji.
q : Pak Ali adalah seorang muslim.
p _ q : Jika Pak Ali adalah seorang haji maka pastilah dia seorang muslim.

Implikasi dari p ke q dinyatakan dengan, p>q, ialah proposisi yang bernilai salah
jika dan hanya jika p bernilai benar dan q bernilai salah.
Proposisi p disebut anteseden(premis/hipotesa) dan proposisi q disebut konsekuen(konklusi/kesimpulan).

• Contoh ke-2
a. Jika adik lulus ujian, maka ia mendapat hadiah dari ayah.
b. Jika suhu mencapai 80°C, maka alarm berbunyi.
c. Jika anda tidak mendaftar ulang, maka anda dianggap mengundurkan diri
Pernyataan berbentuk “jika p, maka q” semacam itu disebut proposisi bersyarat atau kondisional atau implikasi.

DEFINISI : Misalkan p dan q adalah proposisi. Proposisi majemuk “jika p, maka q”
disebut proposisi bersyarat (implikasi) dan dilambangkan dengan
p q
Proposisi p disebut hipotesis (atau antesenden atau premis atau kondisi) dan proposisi q disebut konklusi (atau konsekuen).

Sumber: http://miamiaw.blogspot.com/2009/10/makalah-tentangimplikasi-logik-logical.html
Read more ...

Hukum-Hukum Aljabar Proposisi

Saturday, May 10, 2014
 Hukum-Hukum Aljabar Proposisi

 
Setiap proposisi yang saling ekivalen dapat dipertukarkan atau diganti antara satu dengan yang lainnya. Hukum-hukum aljabar Proposisi adalah sebagai berikut:


a.       Hukum Idempoten (Idem)
    • pp ek p
    • pp ek p
b.      Hukum Asosiatif (As)
    • (pq)r ek p(qr)
    • (pq)r ek p(qr)
c.       Hukum  Komutatif (Kom)
    • pq ek qp
    • pq ek qp
d.      Hukum Distributif (Dist)
    • p(qr) ek (pq)(pr)
    • p(qr) ek (pq)(pr)
e.       Hukum Identitas (Id)
    • pF ek p
    • pT ek T
    • pF ek F
    • pT ek p
f.       Hukum Komplemen (Komp)
    • pp ek T
    • pp ek F
    • (p) ek p
    • T ek F
g.      Hukum Transposisi (Trans)
·         pq ek q⇒∼p
h.      Hukum Implikasi (Imp)
·         pq ek pq
i.        Hukum Ekivalensi (Eki)
    • pq ek (pq)(qp)
    • pq ek (pq)(qp)
j.        Hukum Eksportasi (Eksp)
·         (pq)r ek p(qr)
k.      Hukum De Morgan (DM)
  • (pq) ek pq
  • (pq) ek pq




Sumber: http://nurhavida.blogspot.com/2013/04/makalah-hukum-hukum-aljabar-proposisi.html
Read more ...