STUDI KASUS AAN HERMANSYAH
Nama : Aan Hermansyah
Tempat, tanggal lahir : Jakarta, 18 Januari 1993
Sekolah : SMA Angkasa 2
Aan Hermansyah merupakan salah satu siswa yang baru saja beranjak dari SMP menuju SMA.
Ia masuk ke sekolah ternama di Tuban, yaitu SMA Angkasa 2. Padahal ia berasal
dari keluarga yang tergolong menengah ke bawah. Awalnya orang tua Aan tidak
memperbolehkannya masuk ke sekolah tersebut karena takut tidak mampu untuk
membayar hingga lulus nanti. Namun, Fakhriyandi terus memaksa sehingga orang
tuanya mengizinkan.
Setelah
beberapa lama berada disekolah itu, ia merasa mendapat deskriminasi dari
teman-temannya. Ia diejek karena berasal dari keluarga yang tidak mampu.
Bahkan, teman-temannya senang sekali menjahili Aan. Sedikit demi
sedikit, Aan mulai merasa dikucilkan. Awalnya, ia tidak terpengaruh dan
tetap berprilaku biasa. Namun, lama-kelamaan ia mulai merasa muak dengan
keadaan yang ada. Perilaku teman-temannya mulai membuat Aan tidak
fokus, dan prestasi belajarnya mulai menurun. Ini membuat Aan selalu
stress dan merubah dirinya menjadi siswa yang amat nakal. Di kelas Aan
selalu duduk paling belakang, suka membuat gaduh, tidak memperhatikan materi
yang disampaikan guru, bermain-main HP, dan terkadang sampai tertidur. Di rumah
pun ia berperilaku yang sama. Dia tidak menghiraukan nasehat orang tuannya yang
menyuruhnya belajar. Dia suka keluyuran tidak jelas. Aan menjadi malas
belajar, tidak pernah mengerjakan tugas. Suatu saat guru memberikan ulangan
mendadak, ia mengerjakan sebisanya dan akhirnya mendapat nilai yang paling
bawah. Saat guru tersebut bertanya mengenai materi minggu lalu, ia tidak pernah
bisa menjawab. Mengetahui hal itu, Aan tetap tenang dan sama sekali
tidak merubah kebiasaannya. Kurangnya ketegasan, bimbingan, motivasi, dan
perhatian seorang guru dan orang tua dalam menyikapi anak didiknya yang
bermasalah bisa menjadikan siswa menjadi nakal dan kurang bisa menghargai guru
saat KBM berlangsung.
PEMECAHAN
STUDI KASUS AAN HERMANSYAH
Menurut saya
pemecahan studi kasus yang dialami siswa yang bernama Aan Hermansyah ini
cocok menggunakan Teori Behavioristik, yaitu sebuah teori yang segala sesuatunya
dibiasakan sehingga menjadi suatu kebiasaan. Jika saya menjadi guru Aan,
maka saya akan mendekati dia (memberikan perhatian khusus), tetapi hal itu
tidak diperlihatkan kepada siswa yang lain. Menegur siswa-siswa yang suka
mengejek, dan suka mengucilkan. Memberikan bimbingan melalui diskusi-diskusi
kecil di dalam kelas (diskuzi zigsaw), mencoba untuk mengungkapkan pendapat
satu sama lain, menukar informasi dengan anggota kelompoknya. Selain itu,
diawal dan akhir pertemuan selalu diadakan pengulangan materi yang berupa
pertanyaan-pertanyaan atau kuis kepada masing-masing siswa, sehingga materi
yang disampaikan pada saat itu maupun minggu lalu benar-benar bisa diterima dan
tidak hanya pada shot term memory, tetapi juga sampai pada long term memory. Jika siswa tidak bisa menjawab, maka akan ada
hukuman berupa berdiri di depan kelas, menyanyi, bahkan diberikan tugas khusus.
Bersedia atau tidak, peserta didik akan belajar agar tidak mendapat hukuman.
Tanpa disuruh belajarpun, mereka akan tetap belajar karena takut dihukum.
Inilah teori behavioristik bahwa segala sesuatu harus dipaksakan. Pihak
keluarga khususnya orang tua lebih memperhatikan anaknya, seorang anak
dipaksakan untuk belajar. Jika tidak bersedia, maka uang jajan akan dikurangi.
Dengan demikian, adanya paksaan-paksaan akan menjadikan suatu kebiasaan pada
diri siswa.
No comments:
Post a Comment